Langsung ke konten utama

Menuju Era Pendidikan Indonesia 2030

Sejak dihapusnya Bahasa Inggris dari mata pelajaran wajib kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006) dan menjadi bagian dari muatan lokalnya kurikulum 2013, sudah saatnya kita berpikir lebih kritis lagi terhadap sistem pendidikan negara dalam skala Internasional. Dan bertanya dalam diri tiap insan akademik, “Apakah saya siap untuk proyek industri 4.0 dengan sistem pendidikan seperti ini?”. Apakah ada cukup waktu bagi generasi z, yang baru akan serius mengenal Bahasa Inggris di umur 12 tahun, untuk bersanding dengan elit global lainnya di era 4.0? Apakah adil bagi adik – adik kita nantinya yang akan dituntut memiliki skor TOEFL minimal 550? Padahal Bahasa Inggris bukan lagi mata pelajaran wajib di sekolah dasar.

Berdasarkan sejarah perjalanan sistem pendidikan Indonesia, negara mengganti setidaknya 10 kali kurikulum sejak kita merdeka. Dan mungkin, butuh belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuan perubahan lagi untuk benar – benar stabil dalam kondisi pendidikan. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin saja kita tak butuh modifikasi sistem apapun lagi. Mungkin saja selama ini bukan sistemnya yang salah. Mungkin hanya karena kita belum sadar seperti apa diri kita sebenarnya.

Kronologis Sistem Pendidikan Indonesia

Kira – kira seperti inilah kita pada umumnya dalam tiap – tiap generasi. Negara memulai “Kurikulum Rentjana Pembelajaran 1947” di awal kemerdekaan tanpa persiapan yang matang, tanpa pengalaman dan sebuah gagasan awal dalam membangun pendidikan rakyat tanpa campur tangan penjajah. 3 tahun kemudian setelah mengevaluasi, negara menerapkan sebuah standar nasional sebagai parameter proses belajar mengajar kita. Standar itu kita sebut Ujian Nasional.

Sejak saat ujian itu dimulai, muncullah banyak kecurangan dalam perjalanannya selama 70 tahun bersama ke-10 kurikulum yang sudah kita jalani. Kebocoran soal, penjualan kunci jawaban, kerusakan naskah dan banyak lagi kejadian mewarnai dokumen negara yang sangat rahasia itu. Banyak warta berita yang mengabarkan beberapa anak – anak yang tidak lulus ujian. Bahkan diantaranya ada peserta olimpiade sains tahun sebelumnya, siswa/ siswi berprestasi sekolah dan sejumlah anak lainnya yang tak disangka – sangka. Apakah ujian nasional salah? Apa tak boleh kita menguji jerih lelah anak Indonesia selama 3 tahun hanya dengan 40 sampai 50 soal pilihan ganda? Ya, karena faktanya selama 70 tahun, pendidikan kita masih ada dalam posisi terendah di dunia.

Kita bosan mendengarkan ceramah guru karena merasa tak paham. Apakah gurunya yang tidak kompeten? Bisa jadi. Tapi ketika kita mengeluh, muncullah student centre learning. Sebuah sistem dimana siswa harus lebih aktif dalam belajar, mencari materi sendiri dan memahami secara mandiri. Peran guru hanya mengawasi dan menuntun. Dan disinilah, sang guru – guru tak berkompeten diuntungkan. Mereka tak pernah mengawasi, apalagi menuntun. Mereka hanya bagian dari penonton saat kita presentasi di depan kelas, mencari jawaban, memahami sendiri dan mengajarkan teman – teman lain. Tugas kita bukan hanya belajar tapi juga mengajar. Kita bukan hanya siswa, kita juga guru ternyata dalam sistem ini. Apakah student centre learning berhasil? Tidak, karena faktanya sistem pendidikan kita masih pada peringkat terendah didunia.

Kurikulum Berevolusi Mental

Kini kurikulum kita mengedepankan karakter. Demi meningkatkan nasionalisme, kita sudah tak diwajibkan belajar Bahasa Inggris telalu dini. Artinya, kita bisa belajar Bahasa Inggris dengan leluasa, tanpa paksaan apapun dan bebas mengeksplorasi. Apakah cara ini berhasil? Belum, kita tak bisa menyimpulkan sistem yang baru berjalan selama 4 tahun. Dan sudah bukan saatnya lagi kita menyalahkan sistem, kurikulum dan jam pelajaran. Pendidikan modern berbicara tentang karakter dan mental. Generasi dengan karakter dan mental yang bertanggung jawab terhadap pendidikannya sendiri apapun itu sistemnya, yang mampu menerima berapapun jam belajarnya, bekerja keras, menjaga integritas dalam ujian, dan semangat belajar yang tidak patah hanya karena banyaknya kekurangan dari pendidikan negara kita.

Kita mungkin sudah terbiasa sampai tak tersentuh lagi dengan kata – kata nasionalis ini “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!”. Semuanya berawal dari diri sendiri. Sistem mungkin tak pernah salah, kurikulum pun demikian. Kitanya saja yang kurang kuat. Tapi tidak apa – apa, menjadi lemah bukanlah suatu kejahatan. Masih banyak waktu bagi generasi z. Dengan teknologi dan internet yang secanggih sekarang, tidak ada hambatan apapun lagi untuk belajar. Sekalipun Bahasa Inggris dihapus total dari kurikulum, negara tidak akan melarang rakyatnya belajar bahasa asing dalam sistem e – learning.

Selamat datang di Era E–Learning.

Di e–learning, pelajar sudah bisa memilih yang terbaik bagi pendidikannya sesuai gaya belajar masing – masing. Pelajar hanya perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya masih mau belajar?” Tak perlu lagi khawatir pelajaran yang sulit, karena telah banyak metode belajar yang mudah dipahami hadir di internet. Melalui platform video, belajar matematika yang awalnya selalu menakutkan pun bisa menjadi menyenangkan dan mudah diterima. Demikian juga dengan mata pelajaran lainnya. Sehingga masih banyak waktu bagi adik – adik kita untuk lebih dini belajar Bahasa Inggris dengan e–learning. Dan sangat memungkinkan untuk bisa mencapai skor tinggi dalam tes kemampuan Bahasa Inggris seperti TOEFL atau IELTS.

Namun sebuah teknologi butuh control dari penciptanya, yaitu kita sebagai manusia. Control terhadap karakter dan mental kita yang dikhawatirkan menjadi ancaman dari pendidikan modern. Apakah kita akan menjadi sombong karena ilmu pengetahuan dan teknologi ini? Apakah kita akan menjadi manusia cerdas dengan mental lemah dan jiwa persaingan yang tidak sehat? Apakah kita adalah calon – calon koruptor berintelek di masa depan? Apakah kita hanya akan memperkaya diri sendiri, kecewa terhadap kekurangan negara ini dan pergi ke tempat lain yang kita nilai lebih baik? Jawaban ada dalam diri masing – masing. Indonesia butuh generasi yang berani bermimpi bahwa suatu hari ilmu pengetahuan Indonesia dihargai banyak negara. Generasi dengan mental dan karakter yang kuat untuk mewujudkan mimpi itu. Dan meskipun negaranya memiliki banyak kekurangan, mereka bukan orang yang akan melarikan diri dari mimpinya hanya karena dihantam realita.

Krisis pendidikan kita bukanlah standarisasi pendidikan lagi, staf pengajar lagi, pengurangan dan penambahan jam atau mata pelajaran tertentu lagi. Krisis kita adalah mental dan karakter. Inilah sasaran kurikulum 2013 yang telah dirilis oleh negara kita 4 tahun yang lalu. Kurikulum ini harusnya sudah tepat sasaran. Namun kita belum bisa melihat hasilnya sekarang. Kita belum dapat menyimpulkan apapun sampai pendidikan Indonesia 2030 nanti menjadi jawabannya.

This opini has been send to fianosa.com. And it's going to publish soon on their web.

Postingan populer dari blog ini

HELLO MY WORLD, IT'S GOOD TO BE COMEBACK.

I found I stopped blogging around 6 years and want to make some new faces within. Six years.. I lost inspiration, most energy, and motivation. So today, with the first publishing after many years I want to say hi and thanks to everyone who pushed me to start writing again. You will find something different like new content. Previously, I just write an opinion and random things here. So, I added health and science stuff. I am using English in a few contents from now. I know I am not an expert in English like many of my friends. And you will find so much bad grammar here. But I am trying to expand my area and develop my knowledge. Honestly, I had a lot of unconfident either. But I felt like I can’t stop. I want to do something that many people around my life rarely do. So with my unconfident, I will write in 2 languages. I am sorry if you feel uncomfortable with my bad English. You just don’t have to read the English content or you can leave this blog like.. forever. This blog ...

Hi, my name is FOMO

Based on the true event. As a student, we have to pay to attend 24/7 in WhatsApp just to check out our mess schedule. Our campus system never had a fixed schedule for learning activities. So, our leader must call the lecture every single day just to check out if they won't teach us tomorrow. That how I start to get those symptoms.  Sometimes, the lecture replies to our leader's message at 10 pm and he would inform that confirmation at 11 pm. I never sleep at more than 12 pm inactive day till one day, I got inform at 11.45 pm that we will start study at 8 am on the next day. I slept early and woke up at 7.50 am. So, I became the crazy girl who runs to the faculty without took a shower at all. Even to brush my teeth, I didn’t have enough time. I had been late and can’t enter class many times because of that. I confess that I have bad time management. To sleep, eat, study, take a bath, I still confuse to decided which activity should I start. But in fact, I had a bad s...

5 Manfaat Ikut Program KKN Tematik Covid 19 Daring.

5 Manfaat Ikut Program KKN Tematik Covid 19 Daring.  KKN Tematik Covid 19 2020 Unsplash.com/Gaelle Marcel Sebagai tindak lanjut dari upaya penanganan Covid 19 melalui program Relawan Covid 19 Nasional (RECON) dan implementasi Tridharma perguruan tinggi melalui kebijakan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar, Ditjen Dikti Kemdikbud berkolaborasi dengan BNPB, AIPKI, ISMKI dan dukungan berbagai  stakeholders , menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) yang terkait dengan Covid 19. Salah satu tema dalam program KKNT ini ialah “Covid 19 – Daring”. Nah, pelaksanaan KKNT daring (dalam jaringan) ini cenderung membuat peserta merasa bosan dibandingkan luring (luar jaringan). Selain karena mereka tidak bisa berkumpul bersama rekan satu tim, pengadaan program kerja pun terbatas jika dilakukan hanya dari rumah sehingga KKN tidak terlihat menarik lagi. Tetapi jika melihat  benefit  yang ditawarkan setelah program KKNT Covid 19 ini selesai, kita pasti akan kembali mempe...